Migas

The 14th Indonesia Korea Energy Forum (IKEF), Ajang Tingkatkan Kerja Sama Bidang Energi

SUARAENERGI.COM – Indonesia dan Korea telah 50 tahun menjalin hubungan bilateral di berbagai sektor, salah satunya sektor energi. Untuk semakin memperkuat kerja sama tersebut, kedua negara menyelenggarakan The 14th Indonesia-Korea Energy Forum pada Selasa (28/11).

Pada forum 14th IKEF tersebut, para delegasi telah mengikuti kegiatan pemaparan oleh narasumber yang berasal stakeholder migas Indonesia-Korea, dan juga diskusi yang terbagi dalam 3 sesi, pertama sesi minyak dan gas bumi, dan mineral, kedua sesi ketenagalistrikan dan energi terbarukan dan terakhir sesi kerja sama.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji pada closing remarks menyampaikan bahwa akan ada banyak tantangan yang akan ditemui oleh kedua negara dalam menjalin hubungan kemitraan. Namun demikian Tutuka yakin akan selalu ada peluang kerja sama yang dapat digali bersama sehingga dapat memberikan manfaat bagi Indonesia dan Korea.

Pada kesempatan tersebut Tutuka juga mengatakan bahwa di Indonesia itu lapangan gas kebanyakan mengandung CO2 sehingga harus ditangani. Dengan demikian menurut Tutuka kerjasama di bidang CCS ini akan menjadi penting ke depan.

“Perlu saya sampaikan, kami menyadari ada tantangan besar dalam pengembangan CCS-CCUS ini yaitu cost, biaya teknologi CCSUS, terutama di capturing, penangkapan, “ terang Tutuka.

Tutuka menambahkan bahwa pihaknya memahami bahwa di dunia belum ada teknologi yang dapat menurunkan biaya capturing tersebut, yang kurang lebih mencapai 75% dari total biaya CCS. Dengan demikian, menurutnya area research pada teknologi CCS dapat menjadi peluang untuk kerjasama Research & Development kedepan.

Selain itu Tutuka juga menggarisbawahi kebijakan down streaming atau hilirisasi migas yang dilakukan Pemerintah Indonesia. Hal ini merupakan komitmen dari Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan misalkan pabrik Urea Amoniac, yang saat ini sedang dikerjakan di Papua.

“Selain itu ke depan juga terdapat rencana pembangunan petrochemicals kompleks yang sungguh besar juga. Dan ini pasti akan membutuhkan teknologi ccs/ccus yang murah, “ imbuh Tutuka.

Terakhir terkait tentang electricity yang bersumber dari renewable energy, dikatakan Tutuka bahwa Korea cukup menguasai teknologi ini. Hal ini menurut Tutuka dapat menjadi peluang besar untuk bekerjasama di bidang ini.

“Pada prinsipnya kami sadar bahwa Korea mempunyai teknologi yang maju dibanding Indonesia, dan kami Indonesia memiliki resources yang masih sangat besar, jadi kombinasi antar keduanya ini saya kira dapat menjadi kerja sama yang baik,” pungkas Tutuka.

Ikuti Kami

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top